Home / Lifestyle / Community / Zulkarnedi, Sang Penyelamat “Katung”

Zulkarnedi, Sang Penyelamat “Katung”

Zulkarnedi, penyelamat penyu laut atau Katung di Desa Pekik Nyaring Kecamatan Pondok Kelapa Kabupaten Bengkulu Tengah (foto: didi)

Bengkulu: Pesisir Pantai Bengkulu yang berhadapan langsung dengan laut lepas Samudra Indonesia memiliki panjang garis pantai sejauh 527 kilometer. Beberapa wilayah yang memiliki pasir putih halus merupakan lokasi sangat strategis bagi para penyu laut mendarat untuk bertelur.

Penyu laut atau oleh masyarakat Bengkulu disebut “Katung” yang menepi ke daratan ini menjadi incaran manusia hingga hewan predator untuk mengambil telur bahkan daging dan kulitnya. Jika tidak disikapi, bukan tidak mungkin, hewan yang dilindungi tersebut akan punah.

Adalah Zulkarnedi (56), nelayan pesisir pantai Desa Pekik Nyaring Kabupaten Bengkulu Tengah, tergerak hatinya untuk mengabdikan diri sebagai penyelamat penyu laut atau katung sejak tahun 2011. Keberadaan katung yang saat ini sudah hampir punah menggerakkan bapak 6 orang anak tersebut secara swadaya membentuk kelompok penyelamat katung bernama Alun Utara.

“Jika tidak diselamatkan dari sekarang, jangan harap anak cucu kita akan melihat bentuk fisik katung ini,” tegas Zulkarnedi dikutip dari Liputan6.com.

Sudah ribuan anak penyu atau Tukik hasil penangkaran kelompok ini dilepasliar ke Samudra Indonesia. Pria sederhana ini bahkan tidak mengetahui dan terlibat saat beberapa lembaga yang melakukan prosesi lepasliar tukik dan diberitakan media massa beberapa waktu terakhir.

Dia tidak pernah tampil didepan, baginya melestarikan dalam upaya penyelamatan katung adalah kegiatan menebus dosa masa lalu yang dilakukan para pemburu hewan dan telur katung. Setiap hari waktunya dihabiskan berkutat dengan telur-telur penyu yang menjadi calon bayi dan ratusan tukik yang harus dibesarkan hingga siap dilepas kembali ke habitatnya.

“Telur dan tukik ini sangat sensitif, harus dirawat setiap hari, tidak boleh lengah,” ujarnya.

Saat paling merepotkan menurut suami dari Mulyana tersebut adalah ketika telur mulai menetas. Dia harus mengangkat satu persatu tukik yang keluar dari cangkang telur dan mengguntingnya dengan menyisakan sedikit kuning telur yang menempel sebagai sumber makanan tukik sebelum mendapat asupan makanan lain.

Penetasan yang serempak hingga ratusan ekor ini, harus ditangani secara cepat. Untuk menghindari saling tindih dan salah penanganan. Nyawa para tukik dipertaruhkan, jika tidak sigap dan cekatan, kegagalan penetasan akan terjadi dan waktu 3 bulan pengeraman akan sia-sia saja.

“Saat menetas, seluruh anggota keluarga termasuk para relawan terlibat aktif, jam berapapun itu,” lanjutnya.

Membesarkan tukik juga menjadi pekerjaan rutin. Kondisi air pantai Desa Pekik Nyaring yang sering keruh membuat dia dan anggotanya harus menjemput air dari pantai Tapak Paderi Kota Bengkulu yang berjarak lebih dari 10 kilometer dari lokasi penangkaran. Ratusan liter air laut diangkut menggunakan sepeda motor secara terus menerus setiap hari. Ini dikarenakan mereka tidak memiliki alat penyaring air.

sumber: Liputan6.com

About didi yong

Check Also

Harun Mahbub: Tik Tok Sudah Merasuki Jurnalisme

Bengkulu: Ada yang menarik saat Redaktur pelaksana Liputan6 Harun Mahbub saat memaparkan materi dalam Seminar …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Powered by keepvid themefull earn money