Home / Lifestyle / Community / Menelusuri Rekam Jejak Islam Masuk ke Bengkulu

Menelusuri Rekam Jejak Islam Masuk ke Bengkulu

Oleh: H Rolly Gunawan

“Masuknya Islam ke Bengkulu melalui lima pintu”

pintu pertama melalui kerajaan Sungai Serut yang dibawa oleh ulama Aceh Tengku Malim Mukidim,

pintu kedua melalui perkawinan Sultan Muzafar Syah dengan putri Serindang Bulan, inilah awal masuknya Islam ke tanah Rejang pada pertengahan abad XVII.

Pintu ketiga melalui datangnya Bagindo Maharajo Sakti dari Pagaruyung ke kerajaan Sungai Lemau pada abad XVII,

pintu keempat melalui dakwah yang dilakukan oleh dai-dai dari Banten, sebagai bentuk hubungan kerjasama kerajaan Banten dan kerajaan Selebar,

pintu kelima masuknya Islam ke Bengkulu melalui daerah Mukomuko setelah menjadi kerajaan Mukomuko”.

Kerajaan Pagaruyung di Sumatera Barat mempunyai kekuasaan yang luas dari Sikilang Aia Bangih adalah batas Utara, sekarang di daerah Pasaman Barat, berbatasan dengan Natal, Sumatera Utara.

Taratak Aia Hitam adalah daerah Bengkulu (daerah pesisir Selatan hingga ke Mukomuko).
Durian Ditakuak Rajo adalah wilayah di Kabupaten Bungo, Jambi yang terakhir, Sialang Balantak Basi adalah wilayah di Rantau Barangin, Kabupaten Kampar, Riau sekarang .

Selain jalur-jalur ataupun pintu masuknya dakwah Islam ke Bengkulu yang dikemukakan di atas,

salah satu jalur masuknya Islam ke Bengkulu adalah adanya hubungan kerajaan Sungai Lemau dengan Singaran atau Suanda yang berasal dari Palembang.
Pada tahun 1527 M datang seseorang yang berasal dari Lembak Beliti, dusun Taba Pingin Pucuk Palembang yang bernama Singaran atau Suanda kepada Baginda Sebayam raja Sungai Lemau dengan tujuan untuk meminta suaka politik.

Pengganti Baginda Sebayam adalah putranya yang tertua bernama Baginda Sana yang bergelar Paduka Baginda Muda.

Pada masa pemerintahan Paduka Baginda Muda datang seorang laki-laki dari dusun Taba Pingin yang bernama Abdul Syukur yang masih termasuk kerabat Singaran (Suanda). Abdul Syukur inilah yang mula-mula mengembangkan agama Islam di wilayah Sungai Itam hingga ke Lembak Delapan .

Singaran atau Suanda yang datang dari Lembak Beliti dusun Taba Pingin Pucuk Palembang dalam sumber lain nama Singaran atau Suanda disebut juga dengan nama Aswanda.

Karena Aswanda berkelakuan baik dan berasal dari keturunan bangsawan maka oleh baginda Sebayam diambil menjadi menantu dan diberi sebagian wilayah kerajaannya, yaitu daerah pesisir yang terbentang antara Sungai Itam dan sungai Bengkulu ke hulu sampai sungai Renah Kepahiang dan ke hilir sampai ke pinggir laut, peristiwa ini terjadi pada tahun 1650 .

Kedatangan kerabat Singaran (Suanda atau Aswanda) yang beragama Islam (Abdul Syukur) pada masa pemerintahan Paduka Baginda Muda dari kerajaan Sungai Lemau berarti telah terjadi kontak hubungan antara masyarakat Sungai Lemau khususnya di wilayah Sungai Itam hingga ke Lembak Delapan dengan agama Islam sekitar tahun 1650.

Pada tahun 1668 M (1079 H) kerajaan Sungai Lemau dan kerajaan Sillebar yang ada di Bengkulu mengadakan hubungan kerjasama dengan sultan Banten (Sultan Ageng Tirtayasa).

Utusan kerajaan Sungai Lemau diwakili oleh Depati Bangsa Raja, sedangkan utusan dari kerajaan Sillebar diwakili oleh Depati Bangso Radin.
Kedua utusan dari dua kerajaan tersebut menyatakan wilayahnya di bawah kekuasan sultan Banten.

Selanjutnya sultan Banten bermufakat dengan Inggris untuk memberikan gelar pangeran kepada kedua utusan dari Bengkulu tersebut, setelah menghadap sultan Banten, Depati Bangsa Raja dari kerajaan Sungai Lemau mendapat gelar Pangeran Raja Muda.

Sedangkan Depati Bangsa Radin dari kerajaan Sillebar oleh Sultan Banten diberi gelar Pangeran Nata Diraja.

Menurut riwayat, Pangeran Nata Diraja menikah dengan Puteri Kemayun anak perempuan Sultan Banten (Sultan Ageng Tirtayasa). Pangeran Nata Diraja kembali ke kerajaan Sillebar di Bengkulu disertai dengan dua belas tentara kesultanan Banten .

Dengan demikian dakwah Islam juga masuk ke Bengkulu melalui pintu kerjasama antara kerajaan-kerajaan yang ada di Bengkulu pada abad ke-16.

Selain itu peninggalan sejarah menyangkut kontak hubungan masyarakat Melayu Bengkulu dengan agama Islam yang masih dapat dilihat sampai sekarang adanya perayaan ritual tradisi budaya Tabut yang dilaksanakan untuk memperingati kematian cucu Nabi Muhammad S.A.W. _yakni Hasan dan Husein._

Awal datangnya Tabut di Bengkulu dibawa oleh Syekh Burhanudin, bergelar imam Senggolo.

Di Bengkulu Syekh Burhanudin mempersunting dua orang dara yang masing-masing berasal dari dusun Cinggri (pen. Cenggri) dan Sungai Leman (pen. Sungai Lemau) (Pondok Kelapa sekarang) menetap disebuah perkampungan yang terletak dipesisir bantai Berkas dengan anak dan cucunya .

Budaya Tabut di Bengkulu saat masa penjajahan Inggris abad XVII, setelah beberap waktu kemudian masuk pula kaum orang-orang Islam berasal dari India yang berasal dari suku Sipai dan Benggali.

Pada masa kolonial Inggris berada di Bengkulu, orang-orang Benggala termasuk kelompok ke lima dalam pelapisan sosial.

Pada masa tersebut rang-orang Benggala lebih sedikit jumlahnya dibandingkan dengan orang-orang Cina.

Sifat tabiat orang Benggala ini selalu penuh curiga, suka berkelahi, dalam bekerja serta lebih lamban dari orang-orang pekerja Melayu.

Selain itu orang-orang Benggala ini sering menciptakan suatu tradisi perayaan yang lain dari kebudayaan orang-orang Melayu yang ada di Bengkulu, orang Benggala ini dikenal juga sebagai Sipaijer atau orang Sipai .

Selain bukti sejarah berupa kebudayaan, tulisan, dan lain sebagainya, bukti lain yang mengindikasikan masuknya dakwah Islam ke suatu daerah antara lain adalah adanya makam orang Islam atau makam yang bercorak Islam.

Seperti ditemukannya batu nisan yang bertuliskan dan atau berarsitektur Timur Tengah.

Di Bengkulu, salah satu peninggalan makam yang bercorak Islam terdapat pada makam _Sentot Ali Basya_ tertulis tanggal pemakaman 17 April 1885.

Menurut penuturan masyarakat, bangunan cungkup yang ada di atas makam Sentot Alibasyah adalah bangunan baru. Hal itu menunjukan bangunan makam tersebut pada awalnya sangat sederhana, tanpa bangunan tambahan. Makam tidak ditandai dengan nisan, berbeda dengan umumnya makam-makam muslim di Nusantara .

Lokasi makam Sentot Alibasyah ini berada di daerah Kampung Bali atau lebih tepatnya berada pada arah Barat provinsi Bengkulu. Kondisi makam cukup terawat dengan baik, dipasang cungkup berwarna putih, serta disekelilingnya terdapat makam-makam lain yang berasal dari masyarakat sekitar. Lokasi makam mudah dijangkau dengan kendaraan, karena berada sekitar 200 meter dari jalan raya.

Bukti-bukti sejarah masuknya Islam di Bengkulu belum teridentifikasi secara utuh, karena sedikitnya peninggalan sejarah yang menunjukkan kapan masuknya Islam di Bengkulu.

Namun perkembangan sejarah dakwah di Bengkulu dapat juga dilihat dari beberapa manuskrip yang menunjukkan corak ke-Islam adalah adanya naskah yang ditulis pada ruas/gelondong (Gelumpai) dari bambu, yang dikenal dengan tulisan Rencong Ka-Ga-Nga, atau aksara Ulu. Masyarakat turunan Pasemah khususnya masyakat yang ada di Padang Guci kabupaten Kaur menyebut tulisan Ka-Ga-Nga dengan sebutan tulisan Ke-Ge-Nge, dan dari informasi yang penulis dapatkan tidak ada perbedaan antara Ka-Ga-Nga orang suku Rejang dengan tulisan Ke-Ge-Nge yang pernah ada di Padang Guci.

Walaupun demikian tulisan Rencong Ka-Ga-Nga merupakan tulisan suku Rejang Bengkulu pertengahan abad XV, dan dikenal dengan sebutan tulisan Rencong, yang cara menulisnya dilakukan dari kiri ke kanan secara melintang (horizontal). Istilah Rencong lazim dipergunakan oleh sarjana Belanda. Tulisan aksara rencong disebut juga dengan aksara Ka-Ga-Nga, atau Ulu (Surat Ulu) .

Dari sumber lokal yang terhimpun dalam tulisan pada ruas-ruas bambu (Gelumpai) diperoleh keterangan bahwa pada tahun 1417 M seorang dai dari Aceh bernama Malim Mukidim datang ke Gunung Bungkuk Sungai Serut Awi, kawasan Lematang Ulu. Ia berhasil mengislamkan raja Ratu Agung penguasa Gunung Bungkuk saat itu .

Dengan demikian tulisan-tulisan tersebut dengan jelas menceritakan Islam di Bengkulu.

Selain peninggalan tulisan, makam, dan artefak, masjid merupakan sebuah bukti sejarah Islam. Sehingga untuk mengkaji sejarah Islam, tidak jarang masjid menjadi tolok ukur masuk dan berkembangnya Islam di suatu daerah.
Masjid sebagai sentral kegiatan ibadah dan dakwah Islam yang dapat menjadi bukti sejarah masuknya Islam di Bengkulu, namun di sayangkan sangat sedikit dapat ditemukan masjid-masjid tua yang menunjukkan indikasi bahwa masjid tersebut dibangun pada awal masuknya Islam di Bengkulu.

Pada umumnya masjid yang ada di Bengkulu dibangun setelah abad ke -19.

Sebagai bukti masuk dan berkembangnya Islam di Bengkulu, tidak salah kiranya ditelusuri melalui masjid-masjid tua yang ada di Bengkulu. Dalam tulisannya Masjid-Masjid Bersejarah di Indonesia Abdul Baqie Zein mengemukakan ada beberapa masjid tertua dan bersejarah di kota Bengkulu adalah :

masjid Baiturrahim simpang lima th 1910, masjid Taqwa Jl Sutoyo Rt. 4 th 1910, masjid Al-Muhtadin Jl S. Parman Rt. 10 th 1912, masjid Lembaga Pemasyarakatan th 1915, masjid Al-Muhtadin th 1920, masjid Al-Iman Jl. Sutoyo Rt. 5 th 1921. masjid-masjid inilah yang tercatat dalam direktori masjid Kanwil Depag Bengkulu tahun 1997 .

Sumber lain menyebutkan bahwa masjid-masjid yang bersejarah di Bengkulu di antaranya masjid Jamik di Jl. Suprapto, masjid Syuhada di kelurahan Dusun Besar, masjid Al-Mujahidin di kelurahan Pasar Baru, dan masjid Baitul Hamdi di kelurahan Pasar Baru.

Di Bengkulu Selatan terdapat sebuah masjid yang bernama Masjid Al Mannar yang kondisinya saat ini telah dipugar karena mengalami kerusakan berat setelah gempa tahun 2000.

Menurut Burhanuddin (Ketua Panitia Pembangunan Masjid Al-Mannar) masjid Al-Manar merupakan masjid tertua di Kota Manna, karena dibangun sekitar tahun 1905 Masehi atau 1327 Hijriyah. Masjid Al-Mannar yang berlokasi di perkampungan nelayan Pasar Bawah memiliki nilai-nilai historis, karena terkait erat dengan sejarah perkembangan Islam di Bengkulu Selatan.

Di masjid tersebut, dimakamkan pula Syech Moh Amin, yang merupakan penyebar agama Islam dan pendiri masjid pertama di Bengkulu Selatan tersebut.

Disadur dari beberapa sumber lokal, tulisan, dan keterangan para Tokoh.

(Penulis adalah Pemerhati Budaya dan Agama di Kota Bengkulu )

About didi yong

Check Also

Pedagang Kaki Lima Keluhkan Pasar Tradisional Tak Lagi Ramai Pembeli

Roni, salah satu pedagang yang telah berjualan sejak tahun 1998 di Pasar Minggu, pasar tradisional …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Powered by keepvid themefull earn money