Home / Education / Artikel / Menelusuri Jejak Sentot Alibasya Panglima Perang Termuda Diponegoro

Menelusuri Jejak Sentot Alibasya Panglima Perang Termuda Diponegoro

Sentot Alibasya Prawirodirdjo dikenal sebagai panglima perang termuda dalam pasukan yang dipimpin Pangeran Diponegoro

Bengkulu: Keberhasilan Pangeran Diponegoro dalam perang jawa atau lebih dikenal dengan Perang Diponegoro, tentu tidak bisa lepas dari pasukan tempur yang dipimpinnya. Salah seorang Panglima yang memegang kendali pasukan pelopor yang dibentuk Diponegoro adalah seorang anak muda berusia 17 tahun bernama Sentot Alibasya Mushtofa Prawirodirjo. Dalam usia yang sangat muda, Sentot dipercaya memegang komando sebanyak 250 orang pasukan pelopor atau lebih dikenal dengan nama “Pasukan Penilih”. Keberanian dan kehebatan strategi perang Sentot diakui oleh Belanda yang terlulis dalam buku “De Java Oorlog Van yang ditulis De Klerek tahun 1825 hingga 1830. Yang menyebutkan bahwa strategi perang Sentot dalam melakukan maneuver sangat mencengangkan pihak Belanda.

Sentot sendiri menurut Sejarawan Bengkulu Agus Setyanto merupakan buyut dari Sri Sultan Hamengku Buwowo pertama yang dijebak dan ditangkap melalui perundingan di Madiun. Usai ditangkap, Sentot muda dipaksa untuk memimpin pasukan Belanda dalam perang Paderi di Sumatra Barat. Tetapi karena kecintaan dan loyalitas sang Panglima yang berjuluk “Napoleon dari tanah Jawa” itu, Sentot malah berkongsi dengan para intelejen pasukan paderi untuk membocorkan informasi pasukan Belanda yang dipimpinnya untuk kepentingan serangan kaum pribumi. “Belanda yang mengetahui gerakan Sentot marah besar dan menariknya dari Sumatera Barat ke Batavia, lalu mengasingkannya ke wilayah yang tidak memungkinkan dia kembali ke tanah Jawa atau ke Sumatera Barat, yaitu Bengkulu yang saat itu dikuasai Inggris, tepatnya pada tahun 1833,” ungkap Agus Setyanto.

Secara genealogis,  Sentot Alibasya masih keturunan keluarga keraton Mataram  (Yogyakarta).  Buyut (Poyang) Sentot Alibasya  yang bernama  Gusti Bendoro Raden Ayu adalah putri Sultan Hamengku Buwono I, yang menikah dengan Kanjeng Raden Tumenggung Ronggo Prawiro Sentiko atau Pangeran Raden Ronggo Prawirodirdjo I (buyut/poyang Sentot Alibasya).  Sultan Hamengku Bowono I mengangkatnya  sebagai Bupati Madiun yang ke-14 (1755-1784).  Tahun 1784 Raden Ronggo Prawirodirdjo I (Poyang Sentot Alibasya) wafat dan dimakamkan di Madiun. Selanjutnya, putranya yang bernama Raden Mangundirdjo atau Raden Ronggo Prawirodirdjo II (kakek Sentot Alibasya) menggantikan ayahnya menjadi bupati ke- 15(1784-1797), merangkap Wedono Bupati Mancanegoro Timur.  Seterusnya,  Raden Ronggo Prawirodirdjo III  (ayah Sentot Alibasya)  menggantikan ayahnya menjadi bupati Madiun yang ke-16 (1797-1810).  Sebagai bupati wedana Mancanegara Timur,  Raden Ronggo Prawirodirdjo III mengawasi tiga wilayah, yaitu Yogyakarta, Wonoasri dan Maospati dengan  jumlah totalnya ada 14 orang bupati. Raden Ronggo Prawirodirdjo III  menikah dengan Kanjeng Gusti Ratu Maduretno, putri  Sultan Hamengkubowono II.

Disamping menjabat sebagai Bupati Wedana Monconegoro Timur,  Raden  Ronggo Prawirodirdjo III ini termasuk salah satu anggota dewan penasihat kerajaan yang berjumlah tiga orang.  Dua lainnya adalah Raden Adipati Danurejo dan Raden Tumenggung Sumodiningrat. Meskipun telah menjabat sebagai bupati wedana, namun sikap, semangat dan nilai-nilai kejuangan, kepatriotisan Raden Rangga Prawirodirdjo III ini nampak  menonjol sekali. Raden Ronggo Prawirodirdjo III, sangat berani menentang kebijakan Gubernur Jenderal Daendels yang terlalu intervensif dalam hal urusan keraton Yogyakarta.

Dalam masa kesultanan Hamengku Buwono II, Gubernur Jenderal H.W. Daendels telah mengeluarkan peraturan yang mensejajarkan para pejabat /pembesar Belanda seperti Residen Surakarta dan Yogyakarta dengan sultan dalam upacara-upacara resmi. Selanjutnya Daendels menuntut Patih Danurejo II (kaki tangan Belanda) yang dipecat oleh sultan Hamengku Buwono II supaya dikembalikan kepada posisi semula.  Sebaliknya Raden Ronggo Prawiradirja III, yang sangat menentang campur tangan Belanda, agar segera diserahkan kepada pemerintah Belanda untuk  mendapat hukuman. Tuntutan Daendels ditolak oleh Sultan Hamengku Buwono II, sehingga terjadilah pertempuran antara pasukan Belanda dengan pasukan Sultan yang dipimpin oleh Raden Ronggo Prawirodirdjo III yang juga masih ipar dengan Sultan itu sendiri.  Pertempuran antara pasukan Belenda melawan pasukan Sultan yang dipimpin oleh Raden Ronggo Prawirodirdjo III itu terjadi pada bulan November 1810.

Sebagai pemimpin perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda,  Raden Ronggo Prawirodirdjo III mendapat gelar “Susuhunan Prabu Ingalaga “( Paduka Yang Mulia Raja, Penguasa Perang). Dalam pertempuran tersebut, Raden Ronggo Prawirodirjo III (ayah Sentot Alibasya) akhirnya gugur dan dimakamkan di Banyusemurup. Dalam perspekstif kolonial, Raden  Ronggo Prawirodirdjo III dianggap sebagai pemberontak atau pembangkang. Sebaliknya dalam perspektif keindonesiaan atau Indonesia sentris, gugur sebagai pahlawan pembela bangsanya. Dengan demikian, darah pahlawan pun telah menurun dan melekat pada diri Sentot ketika masih berumur 2 tahun.

Setelah Raden Ronggo Prawirodirdjo III gugur, yang menggantikan kedudukannya sebagai Bupati Wedana atau Bupati Madiun yang ke 17 (1810-1820) adalah Pangeran Dipokusumo. Pengganti Pangeran Dipokusumo adalah  Raden Tumenggung Tirtoprodjo yang menjadi Bupati Madiun ke 18 (1820-1822).  Selanjutnya disebutkan bahwa Raden Mas Temungung Prawirodirdjo yang menjadi  Bupati Madiun ke 19 (1822-1861) adalah saudara seayah lain ibu dengan Sentot Alibasya, yang juga sepupu dengan Pangeran Diponegoro.

Senopati Perang Diponegoro

Ketika pecah perang Diponegoro atau perang Jawa (1825), Sentot Alibasya yang masih berusia 17 tahun segera bergabung dengan pasukan Pangeran Diponegoro.  Bahkan nama Sentot termasuk salah satu diantara para tokoh pelaku sejarah yang berpengaruh besar terhadap jalannya Perang Diponegoro.  Dalam catatan sejarah, setidaknya ada beberapa tokoh  pelaku – pahlawan  sejarah selain nama besar Pangeran Diponegoro, yaitu : Pangeran Mangkubumi (putra Sultan Hamengku Buwono II), yang juga paman dari Pangeran Diponegoro,  Pangeran Ngabei Jaya Kusuma (juga putra Sultan Hamengku Buwono II), Kiyai Mojo  (seorang ulama besar pada abad ke 19 yang juga menjadi guru spiritual – penasehat agama Pangeran Diponegoro), Sentot Alibasya yang lebih dikenal dengan nama lengkapnya Sentot Alibasya Abdulmustofo Prawirodirdjo setelah dinobatkan menjadi panglima perang atau Senopati Perang Pangeran Diponegoro,  Raden Prawiro Kusumo (putra Pangeran Ngabei jaya Kusuma) yang usianya relatif masih muda sebaya dengan Sentot Alibasya dan Gusti Iman Ngabdul Hamid Ali Basah (cucu Sultan Hamengku Buwono II) salah satu panglima perang Diponegoro yang ikut tewas dalam pertempuran di sepanjang sungai Progo.

Perjuangan dan Kepahlawanan Sentot Alibasya Prawirodirdjo 

Perang Diponegoro (1825 -1830) selama lima tahun ini tergolong perang besar dan hampir melibatkan seluruh wilayah pulau penduduk di Jawa. Oleh karenanya perang ini juga dikenal dengan sebutan Perang Jawa. Dalam catatan sejarah, perang tersebut telah menelan korban jiwa sebanyak 8.000 serdadu yang berkebangsaan Eropa, 7.000 serdadu pribumi, dan 200.000 orang Jawa. Selaku tokoh sentral  dalam perang Jawa, Pangeran Diponegoro melakukan konsolidasi dengan mengangkat beberapa orang senopati yang baru.  Salah satunya yang diangkat menjadi senopati perang adalah Raden Dullah Prawirodirdjo (Sentot).  Sentot diangkat sebagai Panglima Perang (Senopati Perang) Diponegoro dan  diberi kepercayaan oleh Pangeran Diponegoro untuk memimpin pasukan yang diberi nama Pasukan Penilih dengan kekuatan sebanyak 250 orang.

Menurut catatan sejarahnya Sagimun MD, yang mengusulkan Sentot menjadi panglima perang atau senopati adalah  Gusti Iman Ngabdul Hamid Ali Basah (cucu Sultan Hamengku Buwono II). Beliau salah satu Panglima Perang Diponegroro yang cakap dalam memimpin pasukan pengawal Pangeran Diponegoro. Beberapa jam sebelum menghembuskan nafasnya terakhir,  beliau meminta kepada Pangeran Diponegoro agar teman seperjuangannya, yaitu  Sentot Prawirodirdjo menggantikan kedudukan beliau  sebagai Panglima Perang atau Senopati.  Sejak saat itulah Sentot mendapatkan nama lengkap dengan gelarnya, yaitu Sentot Alibasah Abdulmustofo Prawirodirdjo.

Panglima Perang Diponegoro ini semakin disegani dan ditakuti oleh musuh-musuhnya. Beberapa kali pasukan Sentot berhasil mengalahkan pasukan Belanda yang memiliki perlengkapan persenjataan yang lebih kuat dan lebih unggul.  Panglima Sentot bersama pasukannya dan Prawiro Kusuma (putra Pangeran Ngabei Jaya Kusuma) mampu mengalahkan pasukan Belanda dalam pertempuran di Deksa (8 Juli 1826), dan di Dusun Kasuruan dekat sebuah jurang (28 Juli 1828), serta pertempuran di Lengkong (80 Juli 1828). Keberhasilan Sentot mengalahkan pasukan musuh dalam setiap kali pertempuran semakin memperkuat posisi Sentot sebagai Panglima Perang Tertinggi Pangeran Diponegoro. Bahkan Jenderal De Kock sebagai pihak musuh sendiri pun mengakui bahwa Sentot  adalah jenderalnya Pangeran Diponegoro tertinggi yang paling lihat dalam menjalankan strategi perangnya.

Sentot  yang usianya masih relatif muda, gagah dan berjiwa patriotis ini tidak  mudah ditaklukkan. Bahkan semangat kejuangan dan kepahlawanan Sentot masih terus berkobar,  meskipun beberapa tokoh besar pejuang  Perang Diponegoro satu persatu sudah ditundukkan oleh Belanda.  Dalam catatan sejarah, selama tahun 1828, Sentot masih berhasil meneruskan perang di daerah Banyumas.

Tertangkapnya Kiai Mojo dan pada Nopember 18288, kemudian menyusul menyerahnya Pangeran Mangkubumi (September 1829), belum juga  menyurutkan semangat perjuangan Sentot. Oleh karenanya, Jenderal De Kock secara terus menerus melakukan berbagai upaya untuk menundukkan Sentot.  Dan mencoba melakukan strategi pendekatan lain dalam upaya menaklukkan Sentot.  Strategi  pendekatan kekeluargaan atau “family of approachment” tampaknya lebih berhasil daripada strategi kekerasan. Jenderal De Kock mulai mendekati Pangeran Raden Ronggo Prawirodiningrat yang menjadi Bupati Madiun ke 19 (periode 1822-1861), yang juga merupakan saudara seayah lain ibu dengan Sentot. Pangeran Raden Ronggo Prawirodiningrat ini diminta Jenderal De Kock untuk membujuk Sentot (kakaknya).

Setelah melalui proses pendekatan kekeluargaan yang intens,  akhirnya Sentot yang usianya masih muda ini berhasil dibujuk oleh Belanda melalui adiknya untuk menghentikan perlawanannya.  Bahkan Residen Van Nes yang telah diberi mandat penuh oleh Jenderal de Kock menawarkan janji kepada Sentot akan memberikan pangkat dan kedudukan yang tinggi. Namun demikian, Sentot masih mengajukan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh Belanda.  Sentot bersedia menghentikan perlawanannya dengan persyaratan memberikan uang sebanyak 10.000 dollar, menyetujui pembetukan pasukan sebanyak 1.000 orang dengan pakaian dan perlengkapannya, memberikan 400 hingga 500 pucuk bedil. Persyaratan lain adalah, Sentot dan pasukannya langsung dibawah  perintah gouvernement, bebas daripada Sultan, atau salah seorang kepala/pembesar, bebas menjalankan agamanya, tidak ada paksaan minum jenewer atau arak serta mengizinkan pasukan-pasukannya memakai surban.

Syarat-syarat yang diajukan oleh Sentot dapat diterima oleh Jenderal de Kock melalui Residen Yogyakarta, Van Nes. Hasilnya akhirnya,  pada tanggal 17 Oktober 1829  di Imogiri, dilaksanakan perjanjian yang intinya  Sentot bersedia menghentikan perlawanannya. Selanjutnya, pada tanggal 24 Oktober 1829,  Sentot Panglima muda remaja bersama para pasukannya memasuki kota Yogyakarta dan diterima dengan penghormatan militer. Ini membuktikan bahwa Sentot  tidaklah dengan mudah menyerah begitu saja kepada Belanda. Selanjutnya Sentot dimanfaatkan oleh Belanda, dan  dikirim ke Sumatra Barat untuk memadamkan perlawanan kaum Paderi.  Namun demikian,  pada akhirnya Sentot bersekongkol dengan para tokoh kaum Paderi di Sumatera Barat seperti Tuanku Imam Bonjol, dan juga bersekutu dengan Sultan Bagagarsyah (Sultan Pagaruyung).

Sentot bersama pasukannya sebanyak 300 orang berangkat dari Batavia menuju Padang (Sumatera Barat) pada bulan Mei 1832, dan baru sampai tujuan pada pertengahan tahun 1832. Namun demikian, secara diam-diam Gubernur Jenderal Van den Bosch menugaskan Kapten de Leau untuk mengawasi sepak terjang – gerak-gerik Sentot selama di Sumatera Barat.

Setahun kemudian, setelah Sentot bertugas di Minangkabau, maka terjadilah kontak hubungan antara Sentot dengan pemimpin-pemimpin Minangkabau. Sentot berhubungan secara rahasia dengan pemuka-pemuka Padri.  Bahkan menurut beritanya,  Sentot sempat bertemu dengan Tuanku Imam Bonjol, disalah satu tempat yang tidak diberitahukan. Dengan Sultan Alam Bagagar Syah,  Sentot juga mengadakan pertemuan rahasia guna mengatur langkah untuk melawan Belanda.

Timbullah kesatuan tekad untuk menggabungkan tiga kekuatan untuk mengusir Belanda dari Minangkabau, yaitu  Kekuatan Padri dibawah pimpinan Tuanku Imam Bonjol, Kekuatan Daulat di Pagaruyung dengan pimpinan Sultan Alam Bagagar Syah dan  Kekuatan pengikut Diponegoro di bawah pimpinan Sentot Alibasyah Prawirodirdjo.  Sultan Alam Bagagar Syah segera membuat surat rahasia kepada seluruh pemimpin dan pemuka masyarakat di Minangkabau antara lain Tuanku Imam dari Kamang dan Tuan Alam beserta semua penghulu dari Luhak Nan Tigo, Raja Tigo Selo, Yang Dipertuan di Parit Batu, Tuanku Sambah di Batang Sikilang dan Tuanku Air Batu.

Isi Surat itu adalah sebagai berikut :Adapun Bangsa Batak dan Melayu janganlah takluk kepada pemerintah Kompeni. Baik sekali kita memerintah mereka, supaya mereka jangan berperang melawan kita. Kami yang dari Tiga Luhak telah bersatu dengan Daulat Yang Dipertuan di Pagaruyung, dan Alibasyah Raja Jawa, yang telah kita muliakan, seperti Daulat Yang Dipertuan Pagaruyung, dan ia telah berjanji akan mengusir Kompeni dari Pagaruyung hingga kita ada harapan akan hidup bahagia. Inilah persetujuan kita dengan Alibasyah. Kompeni tak akan memerintah negeri kita lagi melainkan Alibasyah dan Daulat Yang Dipertuan.” ditulis hari Ahad malam tanggal 18 Syawal 1246 ”  

Surat dari Sultan Alam Bagagar Syah sebagian telah sampai ke tangan pemimpin dan pemuka-pemuka Minangkabau. Pada permulaan tahun 1833 terjadilah pemberontakan untuk mengusir Belanda . Sesuai dengan rencana pertama yang telah ditetapkan pada tanggal 11 Januari 1833 tengah malam serangan serentak dilancarkan pada Pos Belanda di Minangkabau. Setelah pemberontakan tahun 1833, timbul kecurigaan serius bahwa Sentot melakukan persekongkolan dengan kaum Paderi. Karena itu, Elout mengirim Sentot dan legiunnya ke Jawa. Sentot tidak berhasil menghilangkan kecurigaan terhadap dirinya. Belanda tidak ingin dia berada di Jawa dan mengirimnya kembali ke Padang, pada perjalanan kesana Sentot diturunkan dan ditahan di Bengkulu tempat dia dibuang dan meninggal sebagai orang  buangan.

Peristiwa 11 Januari ini mempunyai arti yang penting dalam sejarah Minangkabau dalam rangka menentang penjajahan Belanda. Dalam pada itu adanya persekongkolan antara Sultan Alam Bagagar Syah, Sentot dan Padri telah mulai tercium oleh Belanda. Markas Besar di Batavia telah mengetahui dari laporan, bahwa Sentot telah berkhianat kepada pemerintah Belanda.  Akibatnya Sentot kemudian diasingkan ke Bengkahulu dan meninggal di tempat pengasingan. Sentot bertugas di Minangkabau hanya 10 bulan (Juni 1832 – April 1833). Sesudah Sentot diasingkan maka pemerintah Belanda mulai menggempur pengikut Sultan Alam Bagagar Syah satu persatu. Mula-mula diadakan penangkapan terhadap Tuanku Alam, yang juga dilakukan dengan tipu muslihat oleh Mayor De Quay yang bermarkas di Biaro Bukittinggi. Tidak lama Sentot bertugas di Minangkabau, maka terjadilah kontak antara Sentot dengan pemimpin-pemimpin Minangkabau. Sentot berhubungan secara rahasia dengan pemuka-pemuka Padri bahkan menurut berita ia pernah bertemu dengan Tuanku Imam Bonjol, disalah satu tempat yang tidak diberitahukan. Dengan Sultan Alam Bagagar Syah, Sentot juga mengadakan pertemuan rahasia guna mengatur langkah untuk melawan Belanda. Timbullah kesatuan tekad untuk menggabungkan tiga kekuatan untuk mengusir Belanda dari Minangkabau, kekuatan itu adalah Kekuatan Padri dibawah pimpinan Tuanku Imam Bonjol, Kekuatan Daulat di Pagaruyung dengan pimpinan Sultan Alam Bagagar Syah dan Kekuatan pengikut Diponegoro di bawah pimpinan Sentot Alibasyah Prawirodirdjo.

Dengan demikian terkabullah sudah cita-cita Sultan Alam Bagagar Syah untuk mempersatukan kekuatan melawan Belanda di daerah Minangkabau (9, h.4). Sultan Alam Bagagar Syah segera membuat surat rahasia kepada seluruh pemimpin dan pemuka masyarakat di Minangkabau antara lain Tuanku Imam dari Kamang dan Tuan Alam beserta semua penghulu dari Luhak Nan Tigo, Raja Tigo Selo, Yang Dipertuan di Parit Batu, Tuanku Sambah di Batang Sikilang dan Tuanku Air Batu.

Isi Surat itu adalah sebagai berikut :

 “Kami mempermaklumkan kepada tuanku-tuanku dan semua penghulu, bahwa semua yang telah diputuskan tempo hari harus kita lanjutkan dengan segenap kekuatan, supaya kita tidak menanggung kerugian. Kita Raja Nan Sedaulat dan penghulu dari Sawah Duku anak kemenakan dari daratan dan lautan inilah adat kita. Kini saya meminta kepada tiga saudara saya, dan juga kepada semua penghulu, bahwa ninik mamak sekalian akan bersatu padu dan jangan gagal, yaitu dalam menghalau kompeni. Pergunakanlah semua kepandaian Tuanku, supaya kita tidak celaka. Engku-engku mulailah dan teruskan. Jika Tuanku mendapat salah satu rintangan surutlah selangkah, tetapi janganlah melakukan gerakan yang keliru, sewaktu berjalan ke laut atau ke darat. Bersatulah semua Raja dan Datuk, baik yang di Utara maupun yang di Selatan, dan begitu pula rakyat di darat dan di laut. Inilah permintaan saya kepada saudara semuanya. Adapun Bangsa Batak dan Melayu janganlah takluk kepada pemerintah Kompeni. Baik sekali kita memerintah mereka, supaya mereka jangan berperang melawan kita. Kami yang dari Tiga Luhak telah bersatu dengan Daulat Yang Dipertuan di Pagaruyung, dan Alibasyah raja Jawa, yang telah kita muliakan, seperti Daulat Yang Dipertuan Pagaruyung, dan ia telah berjanji akan mengusir Kompeni dari Pagaruyung hingga kita ada harapan akan hidup bahagia. Inilah persetujuan kita dengan Alibasyah. Kompeni tak akan memerintah negeri kita lagi melainkan Alibasyah dan Daulat Yang  dipertuan.” ditulis hari Ahad malam tanggal 18 Syawal 1246.

Surat dari Sultan Alam Bagagar Syah sebagian telah sampai ke tangan pemimpin dan pemuka-pemuka Minangkabau, untuk dilaksanakan. Pada permulaan tahun 1833 terjadilah pemberontakan serentak di mana golongan adat dan golongan Padri bersatu untuk mengusir Belanda . Sesuai dengan rencana pertama yang telah ditetapkan pada tanggal 11 Januari 1833 tengah malam serangan serentak dilancarkan pada Pos Belanda di Minangkabau.

Peristiwa 11 Januari ini mempunyai arti yang penting dalam sejarah Minangkabau dalam rangka menentang penjajahan Belanda. Dalam pada itu adanya persekongkolan antara Sultan Alam Bagagar Syah, Sentot dan Padri telah mulai tercium oleh Belanda. Markas Besar di Batavia telah mengetahui dari laporan, bahwa Sentot telah berkhianat kepada pemerintah Belanda. Akibatnya Sentot kemudian diasingkan ke Bengkahulu dan meninggal di tempat pengasingan. Sentot bertugas di Minangkabau hanya 10 bulan (Juni 1832 – April 1833). Sesudah Sentot diasingkan maka pemerintah Belanda mulai menggempur pengikut Sultan Alam Bagagar Syah satu persatu.

Sentot dan Imam Bonjol

Dalam jurnal tanggal 25 April 1837 diceritakan bahwa Kolonel Elout mempunyai dokumen-dokumen resmi yang membuktikan kesalahan Sentot Ali Basya dengan kehadirannya di Sumatera. ”Inlander ini yang dulu sangat kita hormati tiba-tiba melakukan pengkhianatan. Dia berkhayal mengepalai penduduk Melayu dan bertujuan mengusir berstuur Eropa, dengan perkataan lain membunuh semua orang Eropa. Dia telah menjadi korban kejahatannya karena orang-orang Melayu seperti diketahui mempunyai kejengkelan yang sama banyaknya terhadap orang-orang Jawa maupun orang Eropa,” tulis Mayor de Salis.

Sebagaimana diketahui, Sentot, setelah usai Perang Jawa, masuk dinas Pemerintah Belanda. Kehadirannya di Jawa bisa menimbulkan masalah. Maka, tatkala Kolonel Elout melakukan serangan terhadap Padri tahun 1831-1832, dia memperoleh tambahan kekuatan dari legiun Sentot yang telah membelot itu.

Setelah pemberontakan tahun 1833, timbul kecurigaan serius bahwa Sentot melakukan persekongkolan (konspirasi) dengan kaum Padri. Karena itu, Elout mengirim Sentot dan legiunnya ke Jawa. Sentot tidak berhasil menghilangkan kecurigaan terhadap dirinya. Belanda tidak ingin dia berada di Jawa dan mengirimnya kembali ke Padang. Pada perjalanan ke sana Sentot diturunkan di Bengkulu di mana dia tinggal sampai meninggal sebagai orang buangan. Legiunnya dibubarkan dan anggota-anggotanya berdinas dalam tentara Hindia. (dyo)

Makam Sentot Alibasya di Kota Bengkulu

About didi yong

Check Also

CERITA RUMAH PENGASINGAN BUNG KARNO DI BENGKULU

PRESIDEN pertama Republik Indonesia (RI), Soekarno sempat menginjakkan kaki di provinsi berjuluk ”Bumi Rafflesia”, Bengkulu. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Powered by keepvid themefull earn money