Home / Ekonomi dan Bisnis / Kisah Hualit, Sang Pembuat Parang Tebat Monok

Kisah Hualit, Sang Pembuat Parang Tebat Monok

Pak Haulit (63) pengrajin parang di Desa Tebat Monok Kabupaten Kepahiang (foto: Rori Triani)

Kepahiang: Jika kita melintas ujung Desa Tebat Monok menuju Kabupaten Kepahiang, ada satu pemandangan tak biasa. Jejeran benda tajam beragam jenis bergelantungan di kios-kios milik warga setempat.

Sosok seorang pandai besi yang menarik perhatian adalah Pak Hualit, pria 63 tahun ini terlihat masih perkasa dengan perkakas pembuatan beragam jenis senjata tajam tersebut. Percikan api yang tersembur dari tungku pembakaran besi dan dentingan besi beradu seolah lunak ditangan Pak Haulit.

“Saya sudah 20 tahun menggeluti usaha ini,” ujarnya kepada ctzonedehasenbkl.com.

Bahan besi yang sudah memerah dihantam palu dengan landasan plat tebal, terus dipukul oleh Pak Haulit hingga gepeng. Sesekali dia memandangi hasil pukulannya sembari dicelupkan kedalam air. Setelah dirasa cukup, diapin mulai menggesek menggunakan gerinda untuk mencapai ketajaman yang diinginkan.

Setelah tipis dan tajam, besipun disepuh dan kembali di gerinda hingga mengkilat. Beberapa saat Besi yang sudah berbentuk parang itu didinginkan untuk selanjutnya dipasang tangkai dan dimasukkan dalam sarung untuk dijual.

Menurut Pak Hualit, beberapa pelanggannya memesan untuk kualitas yang baik dengan bahan dari baja. Ada juga yang tertarik dengan sarung yang unik seperti kepala naga, harimau hingga bentuk lain yang memang dibuat untuk menarik perhatian pembeli.

Banyak juga yang membeli dalam jumlah besar untuk dijual kembali. Biasanya dibawa ke luar Bengkulu seperti Sumatra Barat, Jambi, Sumatra Selatan hingga ke Pulau Jawa.

Harga satu unit parang dipatok seharga Rp 50 ribu saja. Untuk pesanan tertentu, dia juga tidak mematok dengan harga tinggi, masih dalam kisaran harga ratusan ribu
rupiah saja.

Tidak hanya parang, Pak Haulit juga memproduksi pisau, Badik, Samurai hingga parang khas Kabupaten Kepahiang. Bentuknya persegi Panjang dengan ujung yang lebih runcing.

“Kualitas tetap kami jaga, harga pun tidak kami jual dengan mahal, tujuannya supaya usaha ini tetap berjalan dan menjadi ciri khas daerah kami,” pungkasnya.(RTRiani)

About didi yong

Check Also

Ekonomi Bengkulu Belum Terdampak Virus Corona

Bengkulu:¬†Goyahnya perekonomian China atau Tiongkok akibat merebaknya virus corona belum memberikan dampak terhadap perekonomian Bengkulu …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Powered by keepvid themefull earn money