Home / Education / Artikel / Kisah Heroik Pahlawan Rakyat Bengkulu Dan Saksi Bisu Sejarah

Kisah Heroik Pahlawan Rakyat Bengkulu Dan Saksi Bisu Sejarah

Oleh: H Roli Gunawan

Banyak cerito nang masih tengiang-ngiang dikepalak anak-anak kek cucung kito hinggo ari iko.. “camano niyan sampai pacak tecogok BENTENG MARLBOROUGHT se gagah mecam itu yang dibangun di tanah daerah Tapak Padri, pesisir pantai Bengkulu..??”

Cemanolah niyan cerito sejarahnyo..???

Mungkin cerito iko kelak dapek sedikit jelas menjawabnyo..

Daerah Bengkulu, Bencoolen, Benkoelen, Bangkahulu ko pernah menjadi “SENTRAL” kekuasaan Inggris di Asia Tenggara dengan pusatnya di ‘Fort Marlborought’.

Mengapo hal iko terjadi ?

Sejarah Bengkulu juga masih kental dengan hal-hal yang bersifat legenda ataupun mitos.

Sedangkan periode pada abad ke 20, saat pergerakan kebangsaan menusukkan pengaruhnya ke tulang sum sum kesadaran berbangsa masyarakat Bengkulu, hal ini kurang begitu mendapat perhatian padahal saksi sejarah masih banyak yang hidup dan sumber sejarah pun bisa dikatakan cukup banyak.

Di daerah Bengkulu terdapat sebuah daerah yang bernama Pasar Bengkulu yang memiliki nilai historis yang tinggi dan memainkan peran yang cukup signifikan dalam perjuangan. Setidaknya terdapat beberapa peristiwa sejarah di daerah ini dimana peristiwa itu menempati posisi yang istimewa dalam sejarah Bengkulu.

Pada masa pemerintahan Pangeran Mangku Raja (anak Pangeran Raja Muda), telah terjadi perkembangan dalam struktur kekuasaan seiring dengan pesatnya perdagangan pada saat itu.
Salah satunya adalah pasar yang menuntut Pangeran Mangku Raja membuat sebuah peraturan yang berkaitan dengan pasar di wilayahnya.

Untuk itu diangkatlah empat orang menteri sebagai penghulu (kepala pasar) dengan gelar Datuk de ngan wilayahnya Pasar Pondok Tuadah, Pasar Melintang, Pasar Baroo dan pasar Malabro.

Pasar Bangkahulu dahulunya adalah di bawah kekuasaan dari Pangeran Balai Buntar (Pangeran sungai Lemau) selain dari Sungai Lemau, Pale, lais, Bintuan, serangai hingga perbatasan Ibu kota

Daerah ini akhirnya jatuh sebagai hadiah kepada bangsawan keturunan Bugis, Daeng Makule karena menikah dengan putri Pangeran dari sungai Lemau tersebut.

Dengan prsetasinya ia diakui sebagai Penghulu dari semua bangsa kecuali bangsa Eropa dan diberikan wewenang untuk mengangkat datuk dari pasar-pasar melayu di Fort Marlborough (Burhan 1988:7).

Ketika Belanda datang ke Bengkulu, empat datuk pasar-pasar daerah Bengkulu ini diberhentikan kecuali Datuk Cahaya Negeri.

Pada waktu itu berdiri pula penghulu pada tiap-tiap pasar yaitu Melabro, Pasar Melintang, pondok Juadah, Berkas dan anggut-penurunan, dimana posisi dan peran kekuasaan mereka sangat kecil dibandingkan sebelumnya (Burhan, 1988: 186-187).

Pasar Bengkulu pada saat ini adalah salah satu nama dari kelurahan yang ada di Kota Bengkulu dimana luas wilayahnya tentulah tidak sama dengan masa lalunya.

Tempat ini berhadapan dengan Samudera Hindia di bagian baratnya, Sungai Bengkulu di bagian timur yang membatasi kelurahan ini dengan kelurahan Rawa Makmur.

Ia juga diapit oleh Kelurahan Kampung Kelawi dan kelurahan Kampung Bali. Kelurahan pasar Bengkulu termasuk dalam kecamatan Sungai Serut setelah terjadi perluasan kecamatan di wilayah kota bengkulu.

Penduduknya mayoritas menyebut dirinya sebagai melayu Bengkulu selain itu ada pula yang berasal dari luar kota Bengkulu ataupun dari daerah lainnya dengan mayoritas penduduk beragama Islam dan bermata pencaharian sebagai nelayan.

Nilai Historis Pasar Bengkulu Masa Swapraja, kita ketahui khususnya warga Bengkulu akan nama Puteri Gading Cempaka, seorang puteri yang demikian cantik anak dari ratu Agung Penguasa kerajaan Sungai Serut.

Dalam kisahnya terjadi pertempuran antara kerajaan Sungai serut di bawah kepemimpinan Baginda Anak Dalam Muaro Bangkahulu dengan pasukan Aceh yang disebabkan oleh penolakan pinangan Puteri Gading Cempaka.

Banyak hal yang menjadi tanda tanya dalam masa sungai serut ini diantaranya, siapa Ratu Agung ? Satu sumber menyatakan bahwa ia berasal dari Gunung Bungkuk. Ada pula sumber yang menyatakan ia berasal dari majapahit dan pendapat lainnya mengemukakan bahwa ia berasal dari Banten (Siddik, 1996:2).

Hakim Bernadie menyatakan bahwa jika Ratu Agung itu adalah bukan keturunan langsung dari sultan Banten – dalam hal ini Sultan Hasanudin sebagaimana pendapat Abdullah Siddik- melainkan berasal dari kesultanan Kalapa yang menjadi vasal Banten dengan nama lainnya adalah Ratu Dewata (1535-1543 M).

Setelah menjadi “akuwu” di kesultanan Kalapa, ia pun diangkat menjadi “akuwu” Banten di Sungai Serut Bengkulu. Namun jika dikatakan Ratu Agung adalah keturunan dari Sultan Hasanudin, maka Siddik kemungkinan salah mengidentifikasinya sebagai laki-laki.

Djajadiningrat (1983:36) menyatakan bahwa Ratu Agung anak Sultan Hasanudin itu adalah seorang Putri yang juga dipanggil dengan Ratu Kumadaragi sedangkan anak laki-lakinya dari Pangeran ratu (Putri Demak) adalah Pangeran Sunyaras, Pangeran Pajajaran, dan Pangeran Pringgalaya.

Walau terdapat perbedaan pendapat, namun Abdullah Siddik dan Hakim Bernadie sepakat bahwa Bengkulu pada masa itu adalah daerah penghasil Lada yang sangat menjanjikan sehingga kehadiran Ratu Agung di sana erat kaitannya dengan sumber alam yang paling dicari bangsa barat ini.

Hal iniah yang menyebabkan Banten begiu terpikat dengan daerah ini sehingga ia ditarik ke bawah pemerintahan Banten. (Djajadiningrat, 1983:71).

Namun hubungan ini bukan hanya hubungan yang harmonis belaka. Guillot (2008 : 252) menyatakan bahwa Bengkulu, Silebar dan Lampung mencoba lepas dari kekuasaan Banten dalam hal penjualan lada sehingga Sultan mengirimkan pasukannya ke tempat-tempat terpencil ini untuk memadamkan pemberontakan.

Tahun 1640 tercatat raja Bengkulu di tahan ke Banten disusul oleh pimpinan pemberontakan di Lampung dan Syahbandar Silebar diganti.

Di mana tepatnya letak Kerajaan Sungai Serut ini ?
Abdullah Siddik menjelaskan bahwa berdasarkan naskah Melayu terletak di Muara Sungai Serut yaitu mudik Kualo air (sungai) Bengkulu sekarang di sebelah kanan yang disebut Bengkulu Tinggi.

Sungai Serut adalah Sungai yang panjang dan lebar memudahkan transportasi ke pedalaman dan membawa hasil hutan ke Muara (Siddik,1996: 2).

Hanya saja kemudian untuk melihat dimana sebenarnya Bengkulu tinggi ini menjadi perbedaan pendapat.

Sungai dimana pernah berdiri Benteng Inggris di tepinya adalah Sungai yang melintasi Pasar Bengkulu. Karena tidak mungkin Inggris mendirikan Benteng (Fort York) di Sungai yang bukan menjadi lalu lintas perdagangan Lada ke pedalaman jika bukan Sungai besar dan jalan utama lalu lintas lada dari pedalaman.

Hal ini juga disinggung oleh Abdullah Sidik bahwa letak Benteng ini berada di dekat Kerajaan Sungai Serut (Siddik, 1996:35)

Dalam hal ini, daerah Pasar Bengkulu pada masa itu merupakan daerah yang telah memainkan perannya dalam perdagangan lada dan dalam perdagangan antar bangsa termasuk dengan Banten.

Pada awalnya, kehadiran Inggris ke Bengkulu sebenarnya tanpa diduga dan tanpa di prediksi karena tujuan mereka yang utama adalah Pariaman di tanah Minang untuk berdagang.

Namun angin berhembus justru mengarahkan kapal Inggris ke Muara Sungai Bengkulu. Bengkulu memang bukan menjadi tujuan Inggris karena mengetahui bahwa posisinya adalah sebagai vasal kesultanan Banten yang pada masa Sultan Haji demikian erat hubungannya dengan Belanda.
Kapal Inggris tiba di Bengkulu pada tanggal 24 Juni 1685.

Menurut penuturan Benjamin Bloom, kehadiran Inggris di Bengkulu begitu disambut dengan meriah oleh rakyat Bengkulu. Mereka sangat ramah dan meminta Inggris untuk mendarat ke daratan (Burhan 1988 : 4).

Penyambutan Inggris dengan ramah ini bukan tanpa maksud. Karena diharapkan perdagangan dengan Inggris lebih menguntungkan rakyat Bengkulu dibandingkan dengan Belanda walaupun hal ini harus menentang Banten sebagai kesultanan yang menjadi atasan kerajaan Bengkulu.

Akhirnya dengan perundingan bersama dengan Orang Kaya Lela dan Pangeran Raja Muda, Inggris diminta untuk tinggal menetap di Bengkulu untuk menjalankan perdagangan dengan masyarakat Bengkulu.

Demikianlah Inggris kemudian mendirikan sebuah Benteng di tepi Sungai Bengkulu yang diberi nama Benteng York (Fort York).

Karena adanya Benteng Inggris ini maka daerah sekitarnya menjadi ramai dan menjadi pusat perdagangan yang sangat menjanjikan.

Namun kondisi ini sempat sedikit terusik karena pada bulan Desember 1965, muncul tiga buah kapal Belanda dengan 300 pasukannya. Pasukan ini membawa Jenang Ki Aria Sutra untuk memperlihatkan kekuasaan Banten atas tanah Bengkulu. Jelas Banten ingin mengusir Inggris dari sana.

Namun maksud dan tujuan Jenang ini tidak tercapai karena tidak mendapat sokongan penuh dari rakyat Bengkulu serta tentara Belanda yang dibawanya tidak siap jika harus bertempur dengan Inggris. Setelah kejadian ini tidak ada lagi Jenang dari Banten yang dikirim ke Bengkulu.

Dari Markas Inggris di Fort York inilah, maka Inggris memainkan perannya dalam perdagangan.

Tercatat pos-pos dagang EIC dibuka dibanyak tempat seperti di Triamang (1695), Ketahun dan Seblat (1697) dan di Bantal (1700) serta Seluma (1706). Dilanjutkan dengan kerjasama dengan Krue dan Manna di Selatan dan Mejunto di Utara (Siddik, 1996 : 39).

Pada tahun 1712 bandar kecil Bengkulu sudah sangat ramai. Perkampungan orang-orang melayu terbentuk dengan 700- 800 rumah berdiri berdampingan dengan Fort York di tepi sungai Bengkulu. Di tepi Pantai terdapat sebuah perkampungan tempat kediaman Budak negro kompeni yang dibawa dari madagaskar.

Di dataran rendah, terbentang tanah sawah yang ditanami padi oleh penduduk sekitar. Sedangkan di sekitar Fort York terdapat tanah lapang yang diselingi bukit-bukit kecil yang menghijhau (Siddik, 1996: 41)

Namun, sikap Inggris yang semena-mena dengan membunuh Pangeran Nata Diraja dari Selebar pada 4 November 1710 menyulut kebencian yang mendalam masyarakat Bengkulu terhadapo Inggris yang nantinya berujung pada penyerbuan Benteng Marlborough 1719.

Dengan semakin bertambah ramainya perdagangan dan pemukiman, maka pada tahun 1701 Inggris sudah merasakan bahwa Fort York tidak strategis untuk dijadikan tempat pertahanan serta tidak sehat daerah sekelilingnya.

Dalam surat-surat Inggris yang dikumpulkan oleh Firdaus Burhan, nampak banyak tentara Inggris yang mati karena kondisi tidak sehat ini.

Hal ini kemungkinan berasal dari rawa-rawa Bengkulu yang menjadi sarang nyamuk sehingga menyebabkan Malaria dan demam berdarah. Maka ditetapkanlah Ujung Karang sebagai perbentengan Inggris yang baru.

Proyek pembuatan Benteng ini dimulai sejak tahun 1714 dengan diberi nama Fort Marlborough. (Dalip, 1991:21) Posisinya kini berada di dekat Kampung Cina dan dengan gagah menantang Samudera Hindia.

Tahun 1719 Benteng kokoh dengan dinding depan dua lapis ini berhasil berdiri.

Namun penyerbuan rakyat Bengkulu pada tahun yang sama menegaskan bahwa ;

‘Sekokoh-kokohnya Benteng, masih tetap kokoh perjuangan di hati rakyat Bengkulu yang tak sudi untuk diperlakukan secara semena-mena’.

Penyerbuan ini membuat Inggris kocar-kacir dan untuk sementara meninggalkan Bengkulu.

Fort York pada saat ini kondisinya begitu mengenaskan. Di atasnya telah berdiri Kantor Urusan Agama dan Sebuah sekolah (SD N57 Pasar Bengkulu).

Tidak lagi ada kesan bahwa tempat ini dulunya adalah sebuah Benteng Inggris yang memainkan peran signifikan dalam perdagangan rempah.

Bahkan banyak orang Bengkulu yang berpendidikan pun tak pernah mendengar nama Fort York.

Demikianlah, seiring dengan mengenaskannya kondisi Fort York pada saat ini, demikian pula mengenaskan kesadaran sejarah Masyarakat Bengkulu.

Pasar Bengkulu kembali mencatatkan satu kisah perjuangan para pejuang Bengkulu dalam menghadapi penjajahan. Pos Penjaga Keamanan Rakyat (PKR) di Pasar Bengkulu dan terkenal dengan kisah penyergapan tiga orang Inggris di jembatan Pasar Bengkulu.

Penyergapan tersebut bermula dari sebuah sedan biru yang meluncur dari Lubuk Linggau.

Di kota Curup sedan itu ditahan dengan ketiga penumpangnya adalah orang – orang kulit putih. Namun sedan itu lalu diizinkan untulk lewat dan PKR Curup menelpon PKR Bengkulu. Setelah itu diadakanlah rapat di Pondok Besi yang merupakan markas PKR.

Berdasarkan laporan ketiga orang itu adalah orang – orang Inggris. Ketiga orang itu adalah Trevooro seorang bekas employe pada tambang emas MMS di Lebong Tandai, Kapten Smith anggota pasukan Inggris dan Kkapten Dr. Mycree yang juga anggota pasukan inggris. Tujuan mereka pun diketahui akan pergi menuju Lebong Tandai. Tanggal 5 November 1945 penyergapan itu dilakukan di jembatan pasar Bengkulu.

Dari mobil mereka didapat senjata api dan dokumen – dokumen yang kemudian disita. Pangkal pembunuhan ketiga orang Inggris ini saat salah satu dari mereka menodongkan pistolnya pada M Syafei sedangkan di belakangnya terdapat M. daud seorang anggota PKR.

Refleks kemudian Syafei berkata pada Daud “ Mano tombak”. Sedangkan banyak orang yang mengepung di sana seolah mendengar aba – aba untuk menyerbu ketiga orang Inggris tersebut.

Alhasil ketiganya pun tewas. Peristiwa ini berbuntut panjang, Jepang meminta pembunuh ketiga orang Inggris itu menyerahkan diri dan barang – barang yang disita dikembalikan dengan desakan dari Inggris. Namun rakyat menolak.

Hingga akhirnya pada tanggal 10 November 1945 dua buah kapal perang Inggris berlabuh di Pelabuhan BOOM Bengkulu (dekat Benteng Marlborough sebagai pelabuhan lama).

Hal ini dianggap sebagai ultimatum Inggris. Akhirnya dokumen yang disita dan senjata api dikembalikan sedangkan untuk pembunuhnya akan dicari. Hal ini adalah tak tik agar Inggris tidak membombardir Bengkulu. (***)

Saat ini di bawah jembatan pasar Bengkulu, tegak sebuah monumen untuk mengenang perjuangan masyarakat Bengkulu.

Jembatan bersejarah itu sendiri telah roboh karena banjir besar yang dulu pernah melanda Pasar Bengkulu.

About didi yong

Check Also

Kader GMNI Diberi Amanah Plt Ketua DPD KNPI Mukomuko

Bengkulu: Dewan Pimpinan Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPD KNPI) Provinsi Bengkulu memberikan amanah kepada …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Powered by keepvid themefull earn money