Home / Education / Artikel / Ingin Rasakan Mabuk Kepayang, Ayo ke Kepahiang

Ingin Rasakan Mabuk Kepayang, Ayo ke Kepahiang

Istilah Mabuk Kepayang ternyata berasal dari kisah salah satu kabupaten di Provinsi Bengkulu (foto: dok_

Bengkulu: Bila kita melakukan perjalanan menggunakan kendaraan, seringkali kita merasakan pusing, mual bahkan muntah. Otak kita langsung menyebut kondisi ini sebagai mabuk kepayang. Istilah itu kadang membuat sebagian orang penasaran, banyak yang menebak istilah itu berasal dari kata buah kepayang atau kluwak (padium edule) yang bijinya memabukkan karena mengandung asam SIanida.

 

Sejarah Kepayang sendiri  tidak bisa lepas dari sejarah Kabupuaten Kepahiang Provinsi Bengkulu. Di wilayah yang terdapat dalam jajaran pegunungan Bukit Barisan Pulau Sumatera Bagian Selatan itu memang ditumbuhi banyak buah kepayang atau dalam bahawa rejang disebut sebagai buah kluwing.  Buah yang digunakan sebagai bumbu dapur penyedap rasa ini tumbuh subur di Hutan Lindung Bukit Daun dan kawasan konservasi Bukit Barisan.

Di Pulau Jawa orang biasanya menyebut buah ini dengan kluwek, di wilayah Sunda dikenal dengan sebutan picung. kluwek atau picung lebih dikenal sebagai bumbu masak. Buah ini bisa membuat masakan berwarna hitam. Kluwek atau kepayang biasa digunakan untuk membuat rawon, konro dan lainnya.

Peneliti dari Lembaga Riset dan Kajian Sosial Budaya yang bernaung dibawah Yayasan Aslia Bengkulu Hidi Christopher menyatakan, kabupaten ini disebut Kepahiang karena di sini banyak dijumpai pohon kepahiang. Kepahiang ini memiliki buah warna hitam yang terbungkus batok kecil warna abu-abu. Lalu apa hubungannya dengan mabuk kepayang?

“Buah Kepahiang atau kluwek ternyata tidak sembarangan bisa diolah. Bila dimakan mentah-mentah, maka pemakannya dipastikan akan mabuk berat alias teller,” ujar Christopher di Bengkulu (14/8/2018)

Biji kepahiang ini sangat beracun karena mengandung asam sianida. Bahkan menurut cerita, biji atau buah kepahiang ini biasa digunakan untuk racun anak panah. Dulu orang berburu atau berperang menggunakan racun dari buah ini.

Untuk menghilangkan racunnya, biji kepahiang atau kluwek tersebut harus direndam dan direbus terlebih dahulu. Nah jika ada yang memakan buah ini dan teler maka akan disebut mabuk kepahiang. Mabuk kepahiang ini konon sangat kuat dan sulit disembuhkan.

Namun lama kelamaan orang tidak menyebut mabuk kepahiang, melainkan jadi mabuk kepayang. Hal ini karena mabuk kepayang lebih mudah diucapkan terutama dalam kondisi pelafalan yang cepat. Istilah mabuk-kepahiang pun akhirnya berubah menjadi mabuk kepayang.

Tak hanya berubah secara pelafalan, mabuk kepahiang atau kepayang pun kini sudah bergeser menjadi istilah untuk mabuk asmara. Lalu sudah pernahkah Anda merasakan mabuk kepahiang atau mabuk kepayang?

 

Menuju ke Kepahiang jika kita berangkat dari Kota Bengkulu berjarak 64 kilometer dengan menempuh jalan melewati perbukitan yang lebih dikenal dengan dengan liku Sembilan, jalanan mendaki dan menurun yang berbelok sangat tajam . Seringkali kendaraan yang melintas akan singgah di warung pinggir jalan di tepian hutan, karena beban perjalanan yang berat, orang seringkali merasakan mabuk perjalanan. Ini juga menguatkan bahwa jika ingin ke Kepahiang orang pasti akan merasakan mabuk atau mabuk kepahiang.

 

Kota Kepahiang sejak zaman penjajahan Belanda dikenal sebagai ibukota Kabupaten Rejang Lebong yang pada waktu itu disebut afdeling Rejang Lebong dengan ibu kotanya Kepahiang. Pada zaman pendudukan Jepang selama tiga setengah tahun, Kepahiang tetap merupakan pusat pemerintah Kabupaten Rejang Lebong.

 

Akhirnya dengan kesungguhan dan keikhlasan para pejuang Kabupaten Kepahiang, maka Mahkota Kepahiang yang hilang dapat direbut kembali bagai pinang pulang ketampuknya pada tanggal 7 Januari 2004 yang diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri di Jakarta berdasarkan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Lebong dan Kabupaten Kepahiang di Propinsi Bengkulu. (dyo)

About didi yong

Check Also

Kisah Heroik Pahlawan Rakyat Bengkulu Dan Saksi Bisu Sejarah

Oleh: H Roli Gunawan Banyak cerito nang masih tengiang-ngiang dikepalak anak-anak kek cucung kito hinggo …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Powered by keepvid themefull earn money