Home / Education / Artikel / Erni Suyanti Simanis Penyelamat Harimau Sumatra Yang Hampir Punah

Erni Suyanti Simanis Penyelamat Harimau Sumatra Yang Hampir Punah

Dr Erni Suyanti sang penyelamat habitat Harimau Sumatra (Foto: dok)

Bengkulu: Keberadaan Harimau Sumatra yang saat ini diambang kepunahan bagi Drh Erni Suyanti adalah sebuah tantangan. Wanita mungil berkulit hitam manis ini berada di garda terdepan dalam penyelamatan Harimau Sumatra yang menurut data BKSDA Bengkulu hanya tersisa sebanyak 17 ekor saja.

Dokter Yanti, begitu dia akrab disapa, saat ini menjadi Medik Veteriner atau dokter hewan di Balai Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Bengkulu, harus berkutat melakukan penyelamatan Harimau yang terus diburu oleh tangan rakus manusia. Terkadang dia harus mengadu kecepatan dengan para pemburu untuk mendapatkan Harimau yang terperangkap jerat ditengah hutan belantara.

Kasus pertama yang ditangani Alumni Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga ini pada tahun 2007. Saat itu karena keterbatasan peralatan, dia harus melakukan eksekuti suntik bius dengan tangan atau Hand Injection terhadap seekor harimau yang terkena jerat yang dipasang pemburu.

“Terus terang saya sangat cemas waktu itu, tetapi syukurnya kami bisa mengatasi, Harimau selamat dan kami juga selamat,” ungkap Yanti.

Kasus lain yang juga unik terjadi pada tahun 2011. Saat itu, dia mendapatkan infoemasi ada seekor harimau di Hutan Produksi Air Rami Kabupaten Mukomuko. Untuk mencapai lokasi diperlukan waktu selama 3 hari, satu hari menggunakan kendaraan dan dua hari berjalan kaki menembus hutan belukar. Yanti bersama tim harus beradu cepat dengan pemburu yang memasang jerat.

Berbekal koordinat yang diberikan oleh masyarakat, dia terus berjalan tanpa henti dan menemukan Harimau masih dalam kondisi hidup dan sangat lemah. Selama 10 hari Harimau disembunyikan sambil ditandi keluar hutan. Akhirnya melalui evakuasi melalui jalur sungai, sang Raja Hutan berhasil dievakuasi dan diselamatkan.

“Saat itu yang terfikir oleh saya adalah bagaimana mahluk ciptaan tuhan ini tetap hidup dan kembali ke alam bebas,” lanjut Yanti.

Keyakinan Dr Yanti bahwa semua mahluk hidup berhak mendapat perlindungan membuatnya terus mengabdi untuk kelestarian habitat Harimau Sumatra yang hampir punah (Foto: dok)

Nangis Lihat Harimau Mati

Sebagai seorang wanita, tentu saja naluri keibuan Yanti sangat tinggi. Sebagai petugas medis di Balai Konservasi Seblat yang berada di dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat, beberapa kali dia berhadapan dengan Harimau yang harus menghembuskan nafas terakhir. Diakuinya saat itu dirinya tidak tahan dan terkadang menitikkan air mata.

“Yang terbayang oleh saya, populasi mereka sangat kritis, jika mati satu ekor saja tentu sangat menyedihkan dan menguras emosi,” ujarnya.

Kesedihan lain yang juga sering dirasakannya, adalah saat Harimau kekurangan makanan. Keterbatasan bantuan lembaga peduli hewan langka dan negara membuat Harimau itu kadang tidak diberikan makan untuk beberapa hari. Kondisi itu menurut dia sangat tidak seimbang dengan status Harimau Sumatra yang hampir punah.

Dengan terus menjalin komunikasi dengan beberapa lembaga Internasional yang sering menggunakan jasanya, sedikit demi sedikit para raja hutan yang sedang dalam masa perawatan bisa diberi asupan makanan yang layak. Bantuan sangat sulit didapat, terkadang dia harus mengorbankan uang Gajinya untuk memberi makan Harimau.

Konflik antara manusi dan harimau harus dihentikan untuk kelestarian Harimau Sumatra yang terancam punah (foto: dok)

Konflik Harus Dihentikan

Konflik Manusia dan Harimau hingga hari ini masih terus terjadi, Tiga kawasan konsevasi yaitu Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) dan Bukit Gedang Rejang Selatan yang menjadi habitat Harimau Sumatra, saat ini terus dirambah. Perburuan liar dari para pemburu yang mengincar anak Harimau serta prilaku alam membuat populasi Harimau Sumatra semakin kritis.

Upaya sosialisasi dan himbauan langsung setiap saat disuarakan Yanti dan kawan kawan. Tetapi iming iming harga jual yang tinggi, membuat upaya mereka terkadang sia sia. Masyarakat di wilayah penyanggah taman nasional juga diberdayakan. Tetapi konflik terus saja terjadi. Bahkan tidak jarang Harimau harus masuk ke pemukiman untuk
mencari makan. Karena ketrsediaan hewan untuk disantap sudah tidak ada lagi di dalam hutan.

“Konflik ini harus dihentikan, Harimau Sumatra sudah diambang kepunahan, ayo semua menahan diri,” tegas Drh Erni Suyanti. (dyo)

 

About didi yong

Check Also

Kisah Heroik Pahlawan Rakyat Bengkulu Dan Saksi Bisu Sejarah

Oleh: H Roli Gunawan Banyak cerito nang masih tengiang-ngiang dikepalak anak-anak kek cucung kito hinggo …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Powered by keepvid themefull earn money